Belajar Mendengar

Postingan ini sebenernya terinspirasi film Korea yang saya tonton kemarin hehehe. Film ini judulnya “Third Way of Love”. Di salah satu adegan film ini diceritain kalau si cewek ini salut sama si cowok yang meski orang kaya bener dan jadi bos tapi mau ‘mendengar’. Dan si cowok nya bilang, kalau bisa berikan yang terbaik buat orang itu dengan mendengar (kalau ga salah tangkep ya hahaha soalnya itu film dalam bahasa mandarin)

Saya jadi mikir anak-anak, saya selalu minta mereka mendengar, tapi gak pernah mau denger maunya mereka apa.

“Pah, it’s really cool. Sekarang ada monster baru. Look! Look” kata Kevin sambil maksa papi lihat game di HP.
Jawaban papi, “ya..ya..” sambil jalan gak terlalu memperhatikan. Mungkin papi cape setelah hampir satu jam bermacet-macetan di jalan.

Atau saat Ichan cerita tentang temen sekolahnya sambil nanya gak ada berhentinya, saya jawab “mamah cape, nanti lagi ya”

Giliran saya nanya kegiatan mereka apa dan mereka gak mood jawab, saya marah.Atau saat mereka bilang gak mau makan nasi, saya ga pernah mau denger kenapa mereka gak mau makan nasi. Saya taunya kalau gak mau makan, anak itu bandel. Padahal kalau aja saya denger mereka cerita ternyata mereka lagi bosan nasi dan pengen mie, toh gak ada salahnya kan? kita aja kalau bosen makan nasi, suka makan bakmie buat makan siang.

Saya jadi malu, kadang menjadi orang tua itu membuat saya merasa paling benar, paling tau, harus selalu didengar tapi tidak pernah mendengar. Dan kalau anak jadi tertutup atau lebih suka terbuka kepada temen-temennya, yang salah siapa ya? anak? atau orang tua yang dulunya tidak mau mendengar?

Yuk, ibu-ibu dan bapak-bapak. Meski cape, meski bosan, meski tidak mengerti pembicaraan mereka, kita mendengar kan anak-anak kita. Agar saat mereka besar, mereka nyaman menjadi anak yang terbuka berbicara dengan kita.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of